Pesona Kawah Kamojang dan Situ Cangkuang Garut

Posted by Unknown Kamis, 28 Februari 2013 0 komentar
Sudah lama saya ingin ke Garut, Jawa Barat, dan baru kemarin bisa kesampaian. Hampir 2 bulan saya survey lokasi wisata dan rute ke arah Garut. Seperti biasa, sebelum berwisata, saya selalu hunting dulu lokasi-lokasi yang akan dituju supaya tidak buang-buang waktu di kota yang dituju. Perjalanan ke Garut melalui Tol Cipularang memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan kecepatan sedang, santai saja karena tidak buru-buru juga. Tiba di Kota Garut, saya menyempatkan makan di Restaurant Pujasega. 

Dari luar sekilas restaurant ini kelihatan kecil dan biasa-biasa saja tetapi ternyata di dalamnya ada areal yang luas. Pengunjung bisa memilih makan ala lesehan atau duduk di kursi. Rasanya setelah berjam-jam duduk di kendaraan, lesehan adalah pilihan yang pas buat saya. Restauran Pujasega sangat recommended buat yang ingin makan dengan suasana pedesaan. Menunya pun bervariasi dan rasanya dijamin enak. Terutama menu andalannya paket nasi liwet untuk berdua dan jangan lupa pesan tutut kuah kuning juga, ya. Situs Candi Cangkuang menjadi tujuan pertama wisata yang saya sambangi sore itu. Situs ini terletak di Desa Cangkuang, sebelah utara Kabupaten Garut masuk Kecamatan Leles. 

Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. Berdasarkan sejarah, Candi Cangkuang merupakan bangunan suci berkonsep Hindu pada abad ke-7 dan 8 Masehi. Dibangun tepat di tengah Situ Cangkuang, Garut, Jawa Barat. Candi Cangkuang ditemukan kembali oleh Team Sejarah Leles dan sekitarnya pada tanggal 9 Desember 1966. Persis di sisi selatan Candi Cangkuang, berdiri tegak nisan makan Arif Muhamad, tokoh Islam pertama Kampung Pulo. 

Lebih unik lagi disamping Candi Cangkuang terdapat sebuah pemukiman yang dinamakan dengan Kampung Pulo. Sebuah kampung kecil yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan ini harus ditepati, dan sudah merupakan ketentuan adat kalau jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam. Jadi, kalau ada anggota keluarga yang menikah harus keluar dari lingkungan Kampung Pulo. Sayangnya karena tiba di sana terlalu sore, gambar situs Candi Cangkuang yang saya ambil kurang maksimal, selain tentunya karena faktor kamera pocket amatiran. Namun keuntungannya adalah saya dapat menikmati senja yang romantis di Situ Cangkuang (Danau Cangkuang). Sambil berakit pulang, menyaksikan semburat senja yang indahnya tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Malam itu, sepulang dari situs Candi Cangkuang saya sempatkan mampir ke pasar malam yang ada di alun-alun Kota Garut. Penasaran saja, seperti apa sih pasar malam yang ada di Kota Garut. 

Ternyata tidak beda-beda jauhlah dengan pasar malam-pasar malam yang biasa ada di kota-kota lain. Ada jualan pakaian, makanan, dan ini nih yang seru, berbagai permainan ala Dufan! Sebelum beristirahat, saya sempatkan makan malam di Jemanii Cafe. Tempat makan yang berkonsep terbuka, diatas air. Sekilas mirip dengan Segara Resto di kawasan Ancol. Kawasan kawah Kamojang menjadi tujuan wisata di hari kedua. Perjalanan menuju kawasan wisata Kawah Kamojang benar-benar menjadi obat mujarab buat mata saya yang lelah sehari-harinya menatap monitor komputer 15 inch. Kawah Kamojang adalah sumber panas bumi di Jawa Barat. Dalam sejarahnya, dikenal sebagai gunung berapi yang bernama Gunung Guntur, tapi kawah ini dikelompokkan dalam gunung berapi aktif karena aktivitas panas bumi. Kawasan Kawah Kamojang berbeda dengan Kawah Putih yang berada di Bandung Selatan karena memiliki beberapa titik kawah yang memiliki ciri khas. 

Karena kekhasannya itulah beberapa titik kawah dinamai berdasarkan suara yang terdengar dari kawah. Seperti Kawah Manuk, dinamai demikian karena dalam satu areal kawah yang terdiri atas beberapa lubang mengeluarkan suara seperti manuk atau burung (bahasa sunda). Kawah Kereta Api dinamai demikian karena mengeluarkan bunyi seperti kereta api disertai sesekali suara peluit. Ada juga Kawah Sakarat karena kawah tersebut berbunyi seperi orang yang sedang sekarat (mau mati). Sebenarnya masih banyak obyek wisata yang belum sempat saya sambangi karena keterbatasan waktu. 

Masih ada Pantai Santolo, Situ Bagendit dan lainnya. Tak apa, minimal saya sudah mengunjungi dua obyek wisata paling hapenning di Garut. Next time bisa disusun rencana lagi. Perjalanan pulang Garut menuju Bogor saya tempuh melalui Paseh yang memiliki pemandangan alam cantik tetapi jalannya berkelok dan menurun curam. Rasanya kelokan dan tanjakan Nagrek yang fenomenal itu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan tanjakan dan kelokan jalan di Paseh ini. Lepas dari Paseh, masuk ke wilayah Majalaya dan berakhir di pintu tol Mohammad Toha. Mudah banget rutenya, cukup ikuti jalan utama saja sambil sesekali memperhatikan petunjuk arah jalan untuk memastikan tidak salah arah. Sayang sekali saat saya berkunjung kota Garut sedang tidak ada event adu domba Garut yang terkenal. Sebagai gantinya, saya mencicipi Cokodol, Coklat isi Dodol! Hihi.. Ada-ada saja, ya, saya yang gak begitu suka dodol jadi tertarik juga mencicipi.

Sumber: http://travel.detik.com/readfoto/2011/12/22/152415/1797714/1026/1/pesona-kawah-kamojang-dan-situ-cangkuang-garut
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pesona Kawah Kamojang dan Situ Cangkuang Garut
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.wisatagarut.co/2013/02/pesona-kawah-kamojang-dan-situ.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

TEMPLATE CREDIT:
Situs Booking Online Hotel di Garut - Original design by Bamz | Copyright of Wisata Garut | HdG Team.