Gunung Guntur Garut

Posted by Unknown Kamis, 28 Februari 2013 0 komentar
Bagi seorang pendaki, ada kepuasan batin ketika dirinya sampai di puncak pegunungan. Setelah kelelahan menimpa karena harus menelusuri jalur menanjak, mereka seolah melupakan kelelahan sembari berteriak dari ketinggian puncak melepas beban. Ransel berisi peralatan berkemah yang sedari tadi menggantung di pundak pun kemudian diturunkan. Mereka saling lempar tawa riang bersama para pendaki lain. Bersalaman dan bertukar pengalaman seputar sulitnya melewati jalur yang dilalui ketika mendaki gunung Guntur. 

Gunung ini terletak di daerah Garut Utara, dengan ketinggian 2.249 meter di atas permukaan laut. Tidak seperti pegunungan umumnya yang dipenuhi pepohonan besar dan menjulang. Gunung Guntur hanya dipenuhi rumput ilalang, tandus, dan gersang sehingga sering terbakar ketika musim kemarau. Jalur menuju puncak Guntur juga – selain terjal – terbilang unik karena di dominasi savanna dan batuan kerikil kecil sisa letusan. Jangan heran kalau di sekitar jalur menuju puncak tidak akan kita jumpai pohon besar yang bisa digunakan berteduh. Berdasarkan pengalaman mendaki ke puncak Guntur, saya berangkat ke puncak sekitar pukul 22.00 WIB, agar tubuh ini tidak kepanasan yang mengakibatkan dehidrasi. Bayangkan kalau saya harus berangkat pada pukul 12.00 WIB. Boleh jadi teriknya matahari akan membuat saya sangat kelelahan. Berbeda ketika saya berangkat pada malam hari. Selain udara sejuk, saya juga tidak perlu melihat puncak gunung yang terlihat jelas ketika siang hari – karena gundul – sehingga tidak mudah patah semangat. 

Malahan, kawan saya yang aktif di Remaja Pecinta Alam Garut (Repaga), punya metode khusus saat sedang mendaki gunung. Dia mengarahkan pandangannya ke bawah agar memiliki semangat berlipat ketika mendaki gunung Guntur yang mencapai kemiringan sekitar 35-45 derajat. 1318053161950597284Orang yang pertama kali berhasil mendaki gunung ini berkebangsaan Jerman, bernama Frans Junghun tahun 1837. Pada tahun itulah, Junghun, memasukkan gunung ini sebagai gunung api paling aktif di Jawa. Erupsi gunung Guntur seringkali terjadi pada akhir abad 18. Berdasarkan informasi dari Wikipedia, erupsi gunung Guntur terjadi tahun 1847, 1843, 1841, 1840, 1836, 1834-35, 1833, 1832, 1832, 1829, 1828, 1827, 1825, 1818, 1816, 1815, 1809, 1807, 1803, 1800, 1780, 1777, 1690. Erupsi ini disertai dengan lelehan lava, lapili dan objek material lain. Tak heran kalau di daerah Garut Utara banyak terdapat bebatuan hitam di sekitar kebun dan pesawahan. Teksturnya juga seperti kerak lava yang mengeras selama ratusan tahun. Gunung ini menyediakan suplay air bagi masyarakat yang berada di kaki gunung. Dengan dua sumber mata air (panas) yang mengalir ke Cipanas dan dijadikan objek wisata pemandian. Kemudian yang satu lagi sumber air (dingin) yang mengalir ke aliran Curug Citiis. Sumber air (dingin) disinyalir berasal dari mata air yang mengalir ke Curug Citiis ini. Tak heran bila warga di sekitar kaki Gunung Guntur, menggantungkan ketersediaan air – untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian – dari sebelah kanan gunung ini (warga di Sukaraja sering menyebutnya Gunung Citiis). Akan tetapi, kini kondisi ekosistem di Gunung Guntur sangat mengkhawatirkan. Pada bulan Juli misalnya, terjadi kebakaran yang melalap sekitar 100 hektar areal hutan konservasi yang sebagian besar ditumbuhi ilalang. Menurut Teguh Setiawan, Kepala Seksi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah V Garut, kebakaran ini merupakan kejadian yang cukup besar pada musim kemarau 2011. 

Akibat kebakaran ini – kendati Guntur tidak ditumbuhi pohon – kerusakan telah membunuh ekosistem alam, bahkan sejumlah hewan yang habitatnya di lereng Gunung Guntur ikut terbakar. Tak hanya faktor alami yang telah membentuk Gunung Guntur sangat gundul. Ulah keserakahan manusia pun menjadi penyebab gunung ini terdegradasi. Salah satunya ialah praktik penggalian pasir di kaki Gunung Guntur. Bahkan, hingga kini penggalian tersebut luasnya hampir mencapai Curug Citiis. Apabila praktik ini terus dilakukan boleh jadi gunung Guntur akan mengalami degradasi yang membahayakan. Ketika gunung Guntur habis dikeruk pasirnya dan mengakibatkan erosi, tentu saja akan membahayakan warga Garut di sekitar kaki gunung. Pada tahun 2008, praktik penggalian ini masih dilakukan sehingga daerah ini terkesan rusak dengan eksploitasi besar-besaran. Pemerintah Kabupaten Garut, seolah angkat tangan menyikapi penggalian pasir yang dilakukan secara besar-besaran. Terkesan ada kongkalikong antara pengusaha dengan pemerintah dengan mengeluarkan izin penggalian. Gunung Guntur seolah dijadikan sebagai tambang emas oleh para pengusaha bahan bangunan untuk mengeruk keuntungan. Padahal Guntur merupakan milik warga Garut. Maka, sejatinya pihak pemerintah memberlakukan moratorium penggalian pasir karena dapat merusak alam di daerah tersebut. Sayangnya, hal itu tidak dilakukan. Dalam jangka satu tahun saja, penggalian itu telah menjadikan gunung Guntur kehilangan kakinya. Sebagai warga Garut yang pernah bercengkrama dengan Gunung Guntur, saya sangat khawatir dengan pembangunan membabi buta di daerah ini. 

13180532851884242990Coba kita kunjungi Gunung Guntur ini. Lalu lalangnya truk-truk pengangkut pasir galian, bisa menjadi bukti kongkrit bahwa kebijakan pemerintah kabupaten Garut dilakukan tanpa menggunakan analisis dampak lingkungan (baca: amdal). Mereka hanya mementingkan diri sendiri dengan menelurkan kebijakan tanpa visi yang jelas terhadap problem lingkungan. Saya, yang kebetulan berasal dari rakyat biasa, melihat begitu bernafsunya pengusaha menggali pasir di gunung ini, hanya bisa mengurut dada ketika pulang kampong melewati penggalian pasir mengundang potensi longsor besar-besar. Belum lagi dengan ancaman meletus dan erupsi yang setiap saat dapat terjadi. Apabila penggalian ini tidak dihentukan, akan membahayakan seluruh warga Garut. Saya mengimbau kepada pemerintah kabupaten Garut, khususnya Bupati, mengacu pada kebijakan pemerintah pusat dalam mengurangi emisi gas karbon, untuk menghentikan penggalian pasir di sekitar Gunung Guntur. Pemerintah pusat, katanya berkomitmen mengurangi efek gas rumah kaca sebesar 26 persen pada tahun 2020. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim global yang terjadi. Setiap pemerintah di daerah harus bahu membahu mengatasi kasus perusakan hutan seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembabatan untuk lahan perkebunan. Apalagi kalau pembabatan bahan material yang terkandung di sekitar gunung yang pernah meletus. Pembalakan peppohonan dapat ditanggulangi dengan program moratorium hutan dan reboisasi, disertai ketegasan aspek yuridis. Namun, bila menyangkut pembalakan bahan material berupa pasir akan mengakibatkan kondisi tanah yang terdegradasi. Bahkan, boleh jadi akan mengakibatkan gunung tersebut tidak akan sekokoh dulu menahan bencana alam. Apabila hingga kini masih terjadi penggalian pasir di Guntur, saya pikir mereka yang membiarkan penggalian pasir di sekitar kaki gunung Guntur telah berbuat jahat, termasuk pemerintah dan para pengusaha. Ketika pemerintahan seperti ini dibiarkan berkuasa, maka selama itu pula arah pembangunan akan melenceng dari program perbaikan lingkungan di Indonesia. Jeleknya pemerintah kita ialah selalu sibuk sendiri ketika kondisi alam sudah sedemikian rusak. Sehingga yang terjadi adalah lahirnya kebijakan reaktif bukan kebijakan-kebijakan preventif. Seperti dalam kasus izin penggalian pasir di gunung Guntur. Jika sudah terjadi bencana dahsyat di Garut, baru pemerintah menyibukkan diri saling menyalahkan. Sekali lagi, saya mengimbau kepada Bupati Garut, H. Aceng Fikri, untuk merealisasikan kebijakan moratorium penggalian pasir di Gunung Guntur. Kepada presiden SBY dengan tulus hati saya memohon untuk melihat langsung kondisi gunung Guntur yang telah sedemikian parah karena penggalian pasir tersebut. Gunung, kok, digali terus! Bisa berabe, lho, kalau masih dibiarkan. Akan sangat membahayakan kehidupan warga di sekitar. Dengan laju kerusakan hutan yang sangat tinggi di Indonesia ini, mungkin, perlu dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi Lingkungan Hidup (KPK-LH). Tugasnya ialah memonitoring pemerintah daerah yang telah mengizinkan eksploitasi hutan tanpa visi pembangunan berkelanjutan. Sebab, menurut saya, di dalam praktik usaha eksplorasi alam juga terdapat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Lantas bagaimana dengan nasib warga yang berprofesi sebagai penambang pasir? Kalau saja ditutup aktivitas penggalian tersebut, ada banyak cara yang bisa dilakuan yakni dengan program pemadatan karya. Pasir sangat berbeda dengan pepohonan. Kalau sudah habis digali maka kondisi tanah akan berada dititik nadir mengkhwatirkan. Guntur….riwayatmu kini. Harus menangis akibat keserakahan manusia.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Gunung Guntur Garut
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.wisatagarut.co/2013/02/gunung-guntur-garut.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

TEMPLATE CREDIT:
Situs Booking Online Hotel di Garut - Original design by Bamz | Copyright of Wisata Garut | HdG Team.